Hening Devi Memperkenalkan Seni Jaranan Tari “Celeng Srenggi” Dengan Merilis Single Lagu Yang Bernuansa Hip-Hop

Majasoka.com | Pada tanggal 8 Januari 2018 seorang Penari Jaranan dan sinden asal Surabaya bernama Hening Devi merilis sebuah single dengan judul “Celeng Srenggi”. Yang menarik dari single tersebut adalah nuansa yang disajikannya, bukanlah nuansa langgam atau campursari melainkan adalah nuansa musik HipHop.

Menurut Hening kenapa dia memilih HipHop, karena bagi dia musik HipHop memiliki kelebihan dalam menyampaikan pesan secara lugas dan To the point. Disamping itu Hening juga ingin memperkenalkan Tari Celeng Srenggi yang merupakan salah satu unsur rangkaian seni jaranan kepada masyarakat awam terutama anak-anak muda.

Selama ini yang masyarakat tahu jaranan hanyalah seni kuda kepang biasa, padahal ada banyak unsur di dalamnya mulai dari Kepangan, Barongan, Rampokan, hingga Tari Celeng ini.

Tantangan yang dihadapi pada saat proses recording lumayan melelahkan. Karena jauh-jauh hari sebelum Hening take vokal, dia harus mengerti dulu apa itu musik HipHop baik secara kulturnya maupun sosialnya, lalu dia juga belajar membuat lirik Rap itu sendiri.

“Saya baru tahu, kalau musik Rap itu tidak hanya ngomong cepat, tetapi berima juga, hampir sama seperti parikan dan lantunan tembang macapat” ujar Hening.

Setelah berdiskusi ringan dengan tim manajemen dan beberapa revisi akhirnya diputuskan bahwa lagu ini hanya berdurasi sekitar 1 setengah menit saja.

“Memang sengaja lagunya dibuat tidak panjang, yang penting maknanya dapat. Karena saya bukanlah seorang rapper, saya adalah penari dan sinden jadi lumayan cukup menantang” Tambah Hening lagi.

Single CELENG SRENGGI sendiri bercerita tentang penari celeng yang harus menghadapai cibiran dari masyarakat sekitar dan juga keluarga serta sikap para penikmat jaranan yang harusnya bisa membuat image budaya menjadi baik, tetapi justru rusak dengan adanya banyak tawuran.

Hening Devi dan manajemennya berharap bahwa single ini bisa dinikmati di khalayak luas dan tidak terbatas pada pelaku dan penikmat kesenian jaranan saja, serta bisa diambil manfaat dan juga sisi positifnya. Salam Budaya. (Aswin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar