Cuban Rondo dan Sejarah Yang Terlupakan

Majasoka.com | Legenda yang beredar di daerah Cuban Rondo berpusat pada cerita Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo yang jika ditelisik lebih jauh lagi tidak terlalu jelas dari manakah asalnya Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo.

Cerita dari mulut ke mulut hanya menjelaskan bahwa Dewi Anjarwati berasal dari Gunung kawi dan Raden Baron Kusumo berasal dari Gunung Anjasmoro, Masyarakat juga mengenal cerita mereka pada saat mereka sudah menjadi suami istri dan peristiwa seputar tragedi meninggalnya Raden Baron kusumo.

Tetapi siapakah Raden Baron kusumo dan Dewi Anjarwati sebelum mereka menjadi suami istri?

Kita akan membahas itu nanti.

Sebelum kita menginjak ke kemungkinan siapakah Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo, kita akan membahas terlebih dahulu tentang Raden Inu Kertapati atau biasa dikenal juga dengan Panji Asmorobangun.

Siapakah dia? Cerita tentang dia berkembang hampir ke semua jagat cerita rakyat di tanah jawa. Mulai dari cerita Keong Mas, Klenting kuning hingga Golek kencana.

Singkatnya, semesta cerita Panji Asmorobangun berpusat pada kisah cintanya dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana dari kerajaan Panjalu atau kediri, dan Pangeran Inu (Panji) dari kerajaan Jenggala.

Beberapa sejarahwan berpendapat bahwa bisa jadi perjodohan keduanya tidak murni karena cinta semata, namun juga ada sedikit bumbu politiknya. Dikarenakan kedua negara tersebut sebenarnya adalah satu kerajaan, yang terpaksa dipisah oleh buyutnya yaitu raja Airlangga karena perebutan kekuasaan anak-anaknya.

Perjodohan keduanya jika berlanjut ke pernikahan bisa mengakibatkan bersatunya kembali kerajaan kembar tersebut menjadi satu kesatuan.

Namun sebelum pernikahan keduanya bisa disatukan, banyak sekali halangannya. Baik dari sisi kerajaan Panjalu maupun Jenggala, sehingga mengakibatkan deretan cerita rakyat yang berkembang.

Salah satunya adalah versi cerita tentang Raden Inu Kertapati dengan Patih kerajaan Panjalu yaitu Patih Kudawarsa.

Versi ini pernah disentil oleh Pramudya Ananta toer di dalam bukunya “Arok Dedes”.

Sebelum perjodohan antara Raden Inu kertapati dan Galuh candra kirana diumumkan, Raden Inu kertapati sebenarnya telah menaruh hati kepada putri dari patih kerajaan Panjalu yaitu Dewi Anggraini.

Demikian pula Dewi Anggraini juga sama, mereka berdua saling mencintai namun kisah asmara tersebut tidak akan mungkin bisa dilanjutkan. Karena Panji Inu kertapati seharusnya menikah dengan Putri kerajaan Panjalu, bukan dengan Putri dari Patih.

Hubungan keduanya tercium oleh Raja Jenggolo Lembu Amiluhur atau Mapanji garasakan disampaikanlah hal tersebut kepada Raja Panjalu Sri Samarawijaya.

Murkalah Raja Sri Samarawijaya untuk meredam resiko di masa depan dan menyelamatkan dari rasa malu. Diutuslah seseorang untuk mengakhiri nyawa Dewi Anggraini, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Patih dari kerajaan Panjalu sendiri Ayahanda langsung dari Dewi Anggraini. Jika tidak, maka seluruh keluarga dan turunannya akan dimusnahkan sang raja.

Sebagai seorang Patih yang mengabdi kepada raja dan negara tidaklah mungkin seorang Patih menolak titah raja, apalagi perjodohan Raden Inu dengan Galuh Candra Kirana adalah hal yang sangat dibutuhkan demi kelangsungan bangsa mereka.

Ditengah kebimbangannya sebagai seorang patih dan ayah yang tidak mungkin membunuh putri kandungnya sendiri, patih Panjalu mengambil jalan tengah dengan mengutus pengawal dan prajurit pilihannya yang sangat setia untuk membuang Dewi Anggraini ke hutan.

Entah dengan harapan di hutan nanti dibunuh atau hanya diasingkan sejarah tidak disebutkan, yang penting Dewi Anggraini harus enyah dari muka bumi Panjalu.

Bagaimana dengan nasib keluarga Patih Kudawarsa, di beberapa versi disebutkan bahwa pada akhirnya Sang Raja tetap membunuh keluarga tersebut, ironi.

Singkat cerita, terjadilah pembuangan tersebut dan Raden Inu mengetahuinya. Kecewa lah dia, hingga memutuskan untuk keluar dari keraton Jenggala dan pergi ke Hutan.

Nasib Dewi Anggraini yang diasingkan di tengah hutan bersama pengawal pribadi Patih Kudawarsa selama bertahun-tahun membuahkan cerita.

Dalam satu versi dijelaskan bahwa Dewi Anggraini berganti-ganti nama dan salah satunya adalah Dewi Anjarwati, dan pengawal tersebut kelak dikenal dengan nama Baron Kusumo dari gunung Anjasmoro.

Entah karena waktu dan perjalanan hingga akhirnya menumbulkan cinta diantara mereka, namun yang pasti masyarakat sekitar mengenal mereka sebagai suami istri, namun perlu diingat juga bahwa Panji Inu sudah keluar dari keraton dan masuk ke hutan dan salah satu tujuannya adalah pasti mencari kekasih hatinya yaitu Dewi Anggraini.

Sejarah dari mulut ke mulut mencatat pada saat usia pernikahan mereka mencapai selapan atau 35 hari Dewi Anjarwati (Dewi Anggraini) mengajak Baron kusumo untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro.

Di tengah perjalanan mereka di hadang oleh sosok bernama Joko Lelono yang ingin merebut Dewi anjarwati dari tangan Baron Kusumo dan bertarunglah mereka, Dewi Anjarwati kemudian disembunyikan di sebuah coban untuk menunggu Baron kusumo.

Tapi nampaknya penantiannya tidak akan pernah kunjung usai, karena Baron Kusumo terbunuh. Sejak itu coba tempat Dewi Anjarwati menunggu disebut Coba Rondo, dan sosok Joko Lelono apakah itu sebenarnya Panji Inu kertapati ataukah suruhannya atau memang seorang penjahat yang kebetulan muncul dalam cerita tersebut.

Wallahualam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar