Cerita Tentang Sumping Yang Sekarang menjadi Perhiasan Telinga

Majasoka.com | Bagi para penikmat budaya pasti tidak asing dengan istilah sumping (hiasan telinga). Sumping adalah bagian dari Ricikan (set perhiasan jawa) tidak hanya dipakai pada upacara pengantin atau pada pagelaran budaya jawa saja, pada awalnya hiasan ini hanya dipakai oleh kalangan kerajaan saja sebagai simbol wibawa raja dan ratu.

Pada jaman dahulu kala pada saat dinasti mataram terpisah menjadi dua pasca perjanjian giyanti menjadi ngayogyokartohadiningrat dan surakartahadingrat. Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I meminta agar budaya Paes Ageng diboyong ke keratonan ngayogyokarto hadingningrat.

Pada perkembangannya di tahun 1940 atas titah Hamengkubuwono ke IX busana ke keratonan boleh bebrapa dipakai oleh rakyat, salah satunya adalah sumping.

Di era sekarang sumping merupakan perhiasan emas tetapi jaman dahulu kala (pada saat hanya kaum raja-raja memakainya) sumping  terbuat dari daun papaya yang dihias. Sebagai makna agar pemakai bisa jeli mendengar suara rakyat, dan menyaring dengan jeli mana suara yang perlu didengar dan tidak, agar tidak gegabah mengambil sebuah keputusan.

Namun seiring perubahan jaman, Sumping yang kebanyakan hanya digunakan oleh pengantin wanita ini memiliki pergeseran makna, yaitu sumping yang awalnya terbuat dari daun papaya kan pahit, memiliki nilai filosofi agar pengantin wanita bisa tabah melalui pahitnya hidup tidak hanya senang-senangnya saja. Salam budaya. (AswinDafry)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar